Jakarta – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendorong pemanfaatan teknologi nuklir sebagai solusi inovatif untuk memperkuat ketahanan pangan nasional. Dalam pernyataan resminya, BRIN menyatakan bahwa penggunaan nuklir secara damai dapat mendukung produksi, pengawetan, hingga distribusi pangan yang lebih efisien dan berkelanjutan.
Teknologi nuklir yang dimaksud bukan digunakan untuk pembangkit tenaga atau senjata, melainkan untuk proses seperti radiasi pangan, sterilisasi, serta pemuliaan tanaman yang bertujuan meningkatkan produktivitas dan daya tahan hasil pertanian.
Apa Itu Radiasi Pangan?
Radiasi pangan atau food irradiation adalah metode penggunaan radiasi ionisasi untuk membunuh bakteri, serangga, dan mikroorganisme berbahaya pada bahan makanan. Proses ini dapat memperpanjang masa simpan tanpa mengubah nilai gizi makanan.
BRIN mencatat bahwa Indonesia telah memiliki fasilitas teknologi radiasi di berbagai pusat riset, termasuk G.A. Siwabessy Science and Technology Area yang berlokasi di Serpong, Tangerang Selatan. Teknologi ini dinilai sangat cocok diterapkan di sektor pertanian, perikanan, dan logistik makanan.
Pemuliaan Tanaman dengan Radiasi
Selain untuk pengawetan, teknologi nuklir juga digunakan dalam pemuliaan tanaman. Dengan teknik mutasi induksi radiasi, varietas tanaman dapat ditingkatkan ketahanannya terhadap hama, iklim ekstrem, dan kekeringan. Ini merupakan bagian penting dari strategi jangka panjang untuk mengantisipasi dampak perubahan iklim terhadap produksi pangan nasional.
“Dengan radiasi, kita bisa mengembangkan benih unggul lebih cepat tanpa rekayasa genetik,” ujar peneliti senior BRIN, Dr. Retno Widyasari.
Ketahanan Pangan: Tantangan dan Solusi
Ketahanan pangan menjadi isu penting di tengah ancaman perubahan iklim, krisis global, dan pertumbuhan populasi. Pemerintah Indonesia menargetkan swasembada pangan berkelanjutan dalam jangka panjang, dan teknologi nuklir dipandang sebagai salah satu tulang punggung inovasi pertanian masa depan.
Menurut BRIN, Indonesia memiliki lebih dari 500 peneliti yang bekerja di bidang nuklir untuk aplikasi sipil dan telah menghasilkan sejumlah varietas tanaman pangan seperti padi dan kedelai yang lebih tahan penyakit dan produktif.
Dukungan Internasional dan Etika
Pemanfaatan teknologi nuklir dalam pertanian juga mendapat dukungan dari badan internasional seperti IAEA (International Atomic Energy Agency). Meski demikian, aspek keamanan dan edukasi publik tetap menjadi perhatian. BRIN memastikan bahwa semua prosedur dilakukan sesuai standar keamanan global dan transparan terhadap masyarakat.
Penutup
Pemanfaatan teknologi nuklir untuk ketahanan pangan menunjukkan bahwa sains dapat berperan langsung dalam menyelesaikan tantangan nasional. Dengan pendekatan berbasis riset, Indonesia tidak hanya berfokus pada kuantitas produksi, tetapi juga kualitas, efisiensi, dan keberlanjutan.
Langkah BRIN ini menjadi sinyal bahwa masa depan ketahanan pangan Indonesia akan bertumpu pada inovasi teknologi tinggi yang aman dan bermanfaat langsung bagi rakyat.